Tren bullish tetap memayungi pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Perpaduan (IHSG) kemarin ditutup menguat 0,18% menjadi 5.400,10. Ini adalah rekor paling baik IHSG sepanjang hayat Bursa Efek Indonesia.
Saham sektor perbankan menjadi penggerak mutlak IHSG. Sejak awal tahun sampai kemarin alias year-to-date (ytd), setidak sedikit empat saham bank masuk 10 besar penggerak indeks saham. Keempatnya adalah , Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI) serta Bank BNI (BBNI).
Saham itu adalah Unilever Indonesia (UNVR), Indofood CBP Berhasil Makmur (ICBP), Matahari Department Store (LPPF) serta Matahari Putra Prima (MPPA). Sektor perbankan, konsumer serta ritel memperoleh berkah dari kebijakan Bank Indonesia (BI).
Pada Selasa (17/2) lalu, bank sentral memangkas jarak suku bunga acuan (BI rate) menjadi 7,5%. Kuncupnya BI rate turut mengangkat daya beli masyarakat. Ekspektasi inilah yang mendongkrak saham perbankan, konsumer serta ritel.
Analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee mekualitas, sektor yang menguat dengan pemangkasan BI rate adalah perbankan, properti serta otomotif. Sektor-sektor tersebut sensitif kepada suku bunga. Tahun lalu, kredit perbankan tumbuh kurang lebih 11%.
Dengan melandainya BI rate, kredit berpotensi tumbuh lebih baik dibandingkan realisasi tahun lalu. “Penurunan BI rate ke IHSG berakibat sangat bagus. Kami tinggal menantikan perekonomian yang bakal juga bagus sebab ini,” ujar Hans.
Mengacu data Bloomberg, konsensus analis menempatkan empat saham bank dalam kondisi bullish. Ambil contoh, setidak sedikit 20 dari 32 analis (62,5%) merekomendasikan buy saham BMRI.
Bahkan untuk BBRI, setidak sedikit 26 dari 35 analis (74,3%) memasang posisi buy. Sedangkan untuk saham BBCA, mayoritas analis, yakni 18 dari 33 analis (54,5%) merekomendasikan hold saham tersebut. Hanya 10 analis alias setara 30,3% dari 33 analis yang memasang rekomendasi buy.
sumber

EmoticonEmoticon